Studi Kasus Consonance Dissonation Theory terhadap Perusahaan Teknologi Gojek di DKI Jakarta

 

Studi Kasus Consonance Dissonation Theory terhadap Perusahaan Teknologi Gojek di DKI Jakarta”

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Deskripsi Kasus
Tanggal Judul Berita Kronologis Kejadian
22 Juni 2015 Ini kasus – kasus kejahatan Seksual yang pernah terjadi di Angkot Ibu Kota Kasus pemerkosaan, perampokan yang terjadi di  Ibu Kota Jakarta menjadi perhatian warga Jakarta, setidak nya kasus tersebut terbilang banyak dalam kurun tahun 2011 hingga saat ini
8 April 2015 Tak Hanya Transportasi, Gojek Buka Jasa Pesan Antar Makanan Go-Jek mengembangkan bisnisnya, tidak hanya antar jemput sebagai ojek. Namun juga menawarkan jasa kurir pesan antar makanan
16 September 2015 Polling: Rakyat pilih Gojek Dibanding Ojek Pangkalan Melihat antusiasme masyarakat terhadap go-jek. Viva.co.id mengadakan survei kepuasan pelanggan terhadap  ojek Go-jek dan Ojek pangkalan. Dan hasilnya adalah 82% lebih memilih Go-Jek
1 Januari 2017 Membangkitkan Gairah Usaha Tukang Ojek Nadiem merupakan sosok di balik revolusi industri transportasi ojek di Indonesia. Sebuah layanan jasa ojek yang digemari masyarakat. Dengan fitur-fitur terbaru yang selalu memanjakan konsumennya.

 

 

 

 

Supriyanto (2017) mengatakan pada tahun 2011 seorang pemuda Indonesia mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi yaitu Go-Jek Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh ojek-ojek pangkalan yang menghabiskan waktunya 8-10 jam hanya untuk menunggu penumpang. Perusahaan Go-Jek Indonesia ini membantu ojek-ojek pangkalan untuk menambah  jumlah penumpang mereka dalam. Awalnya Go-Jek Indonesia melakukan transaksi hanya melalui telepon. Namun pada tahun 2014 dengan melihat antusias masyarakat terhadap go-jek, perusahaan ini membuat aplikasi berbasis online. Hal ini juga memudahkan masyarakat yang ingin memesan go-jek untuk melakukan perjalanan yang jauh dapat melihat ongkos dan juga mengenal siapa driver yang akan menjemputnya.

Nadiem, sebagai CEO PT. Go-Jek Indonesia mengatakan ada tiga masalah besar yang ada di kota-kota besar Indonesia. Kemcetan, kurangnya lahan pekerjaan di sektor informal, dan ketidakefisienan pasar di sektor transportas khusunya ojek. Namun tidak hanya bergerak dalam bidang transportasi ojek, dilansir pada viva.co.id tahun 2015 Go-jek membuka fitur baru yakni Go-Food. Menurut Go-Food Project Lead, Jesayas Ferdinandus, layanan fitur Go-Food adalah layanan yang diciptakan untuk pesan antar makanan. Layanan ini akan memudahkan pengguna aplikasi yang ingin memesan makanan namun tidak ingin keluar rumah.

 

Keberadaan Go-Jek di Indonesia ini sangat menguntungkan publiknya. Hal ini dibuktikan melalui survei yang dilakukan oleh viva.co.id terhadap pengguna ojek. 82% responden setuju dengan keberadaan Go-jek dibandingkan ojek pangkalan. Lima alasan uttama dari responden yang mendukung keberadaan Go-Jek adalah bisa menjemput pada tempat yang sudah ditentukan, dan tidak perlu keluar mencari ojek, harga pas tidak perlu menawar, pengendara, kendaraan, dan helm sudah memiliki standar yang membuat rasa aman berkendara, tersedia di sekitar masyakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2. Permasalahan

Berdasarkan kronologi diatas hubungan kasus pelecehan seksual yang terjadi di Ibu Kota dengan terbentuknya Perusahaan teknologi Gojek memiliki dampak bagi penumpang transportasi umum di DKI Jakarta  :

  • Banyak dari Masyrakat Ibu Kota DKI Jakarta berhenti menggunakan transportasi umum dan memilih untuk menggunakan transportasi berbasis online salah satunya adalah Gojek

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Asumsi dasar Teori Disonansi Kognitif

Teori Disonansi Kognitif merupakan teori yang diadaptasi dari displin ilmu psikologi. Teori ini awal mula diciptakan oleh Leon Festinger yang bertujuan untuk memahami hubungan antara kognitif dan perilaku. Festinger (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 115) berpendapat bahwa setiap individu (pelaku komunikasi) memiliki beberapa elemen kognitif, seperti sikap, persepsi, pengetahuan dan perilaku yang saling berkaitan dan menjadi sebab akibat terjadinya tindakan.

Festinger (Kriyantono, 2014, hal. 292) menjelaskan antara elemen dan kognisi memungkinkan terjadinya 3 hubungan, a) Irrelevance (nol), yakni tidak ada keterhubungan antara satu elemen dengan elemen yang lainnya, misalnya pengetahuan individu tentang memelihara kucing dan persepsi individu terhadap kumpulan Ibu – Ibu PKK. b) Consonance (konsistensi) yakni adanya kecocoka atau kesesuaian antara elemen satu denga elemen yang lainnya, contoh Ani memelihara kucing berhubungan dengan kebiasaan Ani pergi ke splendid setiap minggu untuk membeli makanan kucing, yang ketiga adalah c) Dissonance (inkonsistensi) yakni antar elemen saling bertentangan, misalnya Ani memelihara kucing di rumahnya dengan kebiasaan Ani yang tidak berbelanja makanan kucing di pasar splendid. Jenis hubungan yang terakhir merupakan suatu pertentangan yang ditunjukkan dalam perilaku Ani dengan kognisi Ani bahwa setiap makhluk hidup layak diberi makanan yang sesuai dan bernutrisi.

Littlejohn & Foss (2014, hal. 116) berpendapat terdapat dua pemikiran yang menolak teori disonansi. Pemikiran pertama bahwa disonansi menghasilkan ketegangan atau tekanan yang mengharuskan individu untuk berubah, dan yang kedua semakin tinggi disonasi yang terjadi di individu, semakin besar kebutuhan individu untuk mengurangi disonansi tersebut. Disonansi merupakan hasil dari dua variabel, yaitu elemen kognitif dan elemen tindakan, dengan kata lain jika di dalam dua hal tersebut terdapat inkonsistensi makan disonansi akan terjadi. Contoh, Ade percaya bahwa membaca materi sebelum masuk kelas dapat meningkatkan pemahaman Ade terhadap materi yang akan disampaikan di kelas, namun Ade tidak melakukannya karena Ade malas, atau karena ada unsur –unsur lain.

 

Dalam kondisi tersebut bisa dipastikan bahwa Ade mengalami disonansi, dan jika disonansi tersebut semakin tinggi dirasakannya, maka ia akan berkecenderungan untuk menguranginya dengan beberapa cara, salah satunya berdalih bahwa “tidak apa apa, hanya sekali tidak membaca buku pelajaran”. Contoh diatas merupakan jenis individu yang menggunakan teknik rasionalisasi untuk mengurangi disonasi tersebut.

2.2. Metode mengurangi Disonansi

Festinger (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 116) menggambarkan beberapa metode untuk menghadapi disonansi kognitif, (a) mengubah beberapa elemen kognitif atau elemen perilaku untuk mengurangi disonansi, misalnya Ade dapat mengubah kognisinya dan mulai percaya bahwa membaca buku sebelum kelas tidak harus dilakukan disetiap matakuliah, ade dapat memprioritaskan mata pelajaran yang sukar di pahami. (b) menambah elemen – elemen baru kepada elemen kognisi dan elemen tindakan, misalnya Ade dapat menerapkan sistem belajar bersama dengan cewek yang disukai di sekolah, sehingga belajar tidak selalu membosankan, (c) individu dapat melihat bahwa elemen – elemen yang tidak sesuai tidak terlalu penting, contoh, Ade harus melihat bahwa fakta mendapat nilai bagus dan naik kelas menjadi prioritas utama dan lebih penting dari tidak membaca buku, (d) mempertimbangkan informasi  yang sesuai, seperti terlalu serius membaca buku megindikasikan orang tersebut kutu buku, dan kurang pergaulan, atau dengan memahami bahwa materi besok sangatlah rumit sehingga malam harinya dibutuhkan belajar.

Selain itu Zimbardo, dkk (Kriyantono, 2014) menawarkan empat aspek yang mempengaruhi disonansi, (a) persepsi terhadap pentingnya isu (perceived important), yakni individu dapat menilai penting tidaknya suatu isu, serta pengaruh isu terhadap tinggi rendahnya disonansi tersebut, (b) rasio disonansi, rasio disonansi dipengaruhi oleh dua hal yaitu penting tidaknya elemen kognitif dan banyak tidaknya jumlah elemen dalam relasi disonansi, (c) rasionalisasi, rasionalisasi merupakan upaya idividu dalam mencari pembenaran dengan memberikan dalih yang ia gunakan untuk mengurangi disonansi seperti pada contoh Ade yang tidak belajar materi pelajaran sebelum kelas dimulai, (d) proses persepsi, proses ini disebut sebagai upaya mengurangi disonansi yang dapat diaplikasikan dalam 3 tahap, a) selective ex-

 

 

 

posure, yakni individu menyeleksi informasi yang ia dapat dan cenderung menghindari pesan yang inkosisten yang dapat meningkatkan disonansi, b) selective attention, yakni individu lebih mepehatikan pesan yang sesuai dengan skematanya untuk mengurangi tingkat disonansinya, c) selective retention, yakni individu cenderung akan mengingat pesan atau informasi yang sejalan dengan skemata yang diyakininya.

Festinger (Littlejohn & Foss, 2014) turut mejelaskan disonansi dialami sebagai hasil sebuah keputusan yang bergantung kepada empat variabel, (a) kepentingan keputusan, (b) ketertarikan pada alternatif yang dipilih, (c) jika terja di ketertarikan kuat antara individu dengan alternatif baru atau diluar alternatif yang dipilih maka disonansi akan semakin besar (d) semakin besar tingkat kesamaan atau kecocokan antara elemen – elemen, semakin kecil disonansinya.

2.3. Aplikasi Teori Disonansi Kognitif dalam Public Relations

Dalam upaya memerangi disonansi yang dimiliki setiap masyarakat, maka praktisi public relations harus membuat membuat pesan yang mampu mengurangi disonansi publik. Pesan tersebut dapat dibuat berdasarkan problema yang terjadi di dalam masyarakat, dan jauh sebelum itu praktisi public relations sudah melakukan riset terhadap aspek demografis, psikologis, dan kebutuhan publik. Selain itu, pesan yang dimuat dalam upaya mempersuasi masyarakat harus mampu menyelesaikan problema masyarakat, termasuk mengurangi disonasinya. Masyarakat sebagai makhluk sosial tentu berhak mendapatkan jenis pertukaran yang menguntungkan, individu akan terus berupaya mengejar sesuatu yang menjadi solusi dari permasalahannya, hal ini diterapkan dalam interaksi sosial, dalam hal ini perusahaan dapat memenangkan peluang tersebut, dengan membuat semacam win win solution antara perusahaan dengan publik, praktisi public relations mesti menggunakan kesempatan tersebut.

Harrison (Kriyantono, 2014) menawarkan poin – poin bagi praktisi public relations dalam mendesain pesan persuasif (a) pesan persuasif yang memiliki kegunaan bagi khalayak, (b) pesan persuasif yang mengandung kejujuran dan tidak bersifat manipulatif, (c) pesan persuasif yang mampu menarik perhatian khalayak sehingga dianggap sebagai penting dan bernilai (d) pesan persuasif yang tidak mengandung ancaman yang menganggu kepentingan khalayak. Dalam konteks internal perusahaan, strategi disonansi dapat diterapkan praktisi pu-

 

 

 

blic relations untuk meningkatkan kinerja karyawan, dengan cara menyediakan kebutuhan dan fasilitas yang diperlukan karyawan. Fasilitas tidak hanya berarti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, gym, tunjangan, namun fasilitas juga dapat termasuk dalam kebutuhan emosional karyawan, praktisi public relations yang sekaligus berfungsi sebagai boundary spanning perlu menjembatani hubungan antara top management dan para karyawan.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan yakni menggunakan dialog informal dengan karyawan di sela – sela perkerjaan, hal ini dimaksudkan untuk memelihara komunikasi keatas dan komunikasi kebawah. Devito (2011, hal. 387) mengemukakan bahwa manajemen dan karyawan terkadang memiliki perbedaan dalam berdialog, dan kesulitan tersebut menjadi permasalahan pokok manajemen dalam berkomunikasi dengan karyawan, sehingga karyawan tidak mampu memahami pesan yang diberikan oleh manajer. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi dua arah, praktisi public relations memiliki andil besar dalam merekatkan struktur perusahaan, hal – hal kecil yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motiivasi karyawan denga melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, atau menyelenggarakan event sebulan sekali bagi karyawan, event tersebut dapat di desain dengan memberikan nominasi karyawan terbaik, tergiat dan sebagaiannya, perusahaan perlu mengapresiasi karyawan untuk mengurangi disonansi karyawan dalam lingkungan kerja. Perusahaan harus memperhitungkan hal – hal tersebut karena, terkadang manajemen tidak dapat menebak kesulitan dan keluhan karyawan, karyawan merupakan aset yang paling berharga bagi perusahaan, buatlah karyawan percaya kepada perusahaan agar karyawan mau berjuang demi perusahaan.

Berdasaran pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan teori disonansi kognitif penting untuk diterapkan oleh praktisi public relations dalam konteks internal maupun eksternal perusahaan, karyawan akan lebih memilih bertahan dalam lingkungan yang membuatnya aman dan nyaman. Publik akan memilih menjalin ikatan dengan perusahaan yang mampu memberikan solusi dalam permasalahannya, begitu pula pesan persuasif yang baik adalah pesan yang mampu membuat publik merasa yakin dan puas dengan ide atau program yang perusahaan berikan.

 

 

 

BAB III

ANALISIS KASUS

 

Gojek merupakan perusahaan transportasi berbasis online pertama yang telah resmi beroprasi di 13 kota besar Indonesia, yakni Jabodetabek, Denpasar, Bandung, Malang dan sebagiannya. Perusahaan tersebut termasuk dalam kategori perusahaan sukses di Indoenesia dalam kurun waktu yang singkat, pada tahun 2010, Nadiem Makarin selaku CEO Gojek Indonesia mendeklarasikan gojek sebagai transportasi online sebagai transportasi karya anak bangsa. Pada bulan Juni 2015 keberhasilan Gojek terbukti dan memperoleh penghargaan Indonesia Cellular Show dengan nominasi Best Mobile Apps, tidak berhenti disitu, pada bulan Oktober 2016 Gojek meraih puncak kesuksesannya dan memperoleh penghargaan The First Asean Entrepreneur Award di Seoul, dan rentetan penghargaan lainnya yang diperoleh perusahaan transportasi online tersebut.

3.1. Gojek Solusi untuk Mengurangi Disonansi Masyarakat

Tercatat sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 kekerasan seksual menjadi perhatian penting bagi masyarakat khususnya bagi penumpang transportasi umum. Pada awal september 2011 seorang korban berinisial RS (27) yang berprofesi sebagai karyawati diperkosa oleh 4 pelaku pemerkosaan termasuk sopir angkot tersebut, kejadian tercatat di kawasan Ibu Kota DKI Jakarta  (Kompas, 2015). Selain itu pada bulan Agustus 2011, kejadian lebih tragis menimpa LPS yang dibunuh oleh supir angkot beserta komplotannya seusasi memperkosa korban, korban merupakan mahasiswi yang baru saja selesai menghadapi ujian skripsi di Perguruan Tinggi Swasta Jakarta (Kompas, 2015). Setahun Kemudian di bulan Juli 2012, pelecehan seksual terjadi di ibukota dengan korban yang berinisial IS (31) nyaris diperkosa oleh supir angkot di jurusan Senen – Ciledug. Seusai banyaknya kejadian pelecehan tersebut Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengeluarkan sederetan rangkain peraturan tentang larangan penggunaan kaca gelap pada angkot dan mewajibkan pemakaian seragam resmi pada sopir angkot.

 

 

 

Namun kejadian tersebut tidak berhenti disitu, pada tahun 2013 pelecehan seksual kembali terjadi ditambahi dengan kasus perampokan terhadap korban yang berinisial R (35), serta sederetan kasus sama yang tercatat panjang dalam daftar kejahatan di transportasi umum. Beberapa contoh kasus diatas merupakan peristiwa yang ingin dihindari oleh masyarakat manapun, penumpang angkutan umum kini mewaspadai hal – hal tersebut di sekelilingnya, hal ini menjadi suatu tekanan yang dirasakan warga, setiap individu mempunyai kepentingan dan aktivitas masing – masing yang membuat mereka memilih untuk menggunakan transportasi umum, disisi lain warga juga mengharapkan memperoleh kondisi aman dan nyaman dalam berpergian. Deretan kasus pelecehan seksual diatas merupakan peluang yang digunakan oleh Gojek dengan memberitahukan kepada masyarakat bahwa dengan memesan gojek berarti anda telah menggunakan safety riding. Perkembangan Gojek sekarang merupakan inovasi cerdas yang dimanfaatkan perusahaan dalam mengambil hati publik.

Publik membutuhkan keamanan dan kenyamanan dalam berpergian, hal ini menjadi prioritas utama gojek dalam mempublikasikan produk mereka di bidang jasa dan transportasi. Setelah munculnya gojek, banyak dari masyarakat yang menggunakan transportasi umum beralih menggunakan transportasi berbasis online tersebut, yang tentunya hal itu menjadi modal utama gojek dalam berinovasi. Beberapa alasan masyarakat menggunakan Gojek karena kebutuhan masyarakat untuk mengurangi disonansi mereka terhadap peristiwa buruk yang mungkin menimpa mereka saat mengendarai transportasi umum. Seperti yang telah dibahas dibab sebelumnya, bahwa disonansi akan mengakibatkan tekanan terhadap individu untuk berubah (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 116), dan oleh karena itu individu akan melakukan tindakan yang dapat mengurangi disonansi tersebut, dalam konteks ini masyarakat yang tercatat sebagai pelanggan angkutan umum cenderung meninggalkan kebiasaannya menggunakan transportasi umum dan memilih menggunakan gojek dengan beberapa pertimbangan.

Dari kesimpulan saya maka hal ini dapat terjadi jika (a) penilaian masyarakat terhadap gojek sebagai transportasi umum semi online yang menawarkan keamanan dan kenyamanan (b) penilaian masyarakat terhadap gojek sebagai transportasi umum yang menawarkan kemudahan untuk mengakses (c) penilaian masayarakat terhadap gojek sebagai transportasi –

 

 

 

 

umum yang mengutamakan pelayanan ramah (interaksi langsung antara driver dengan pelanggan membentuk suasana kedekatan interpersonal), (d) penilaian masyarakat terhadap gojek termasuk transportasi yang mengeluarkan biaya yang relatif murah. Beberapa alasan diatas menjadi alasan yang cukup rasional mengapa Gojek menjadi salah satu perusahaan sukses diumur yang masih muda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Berdasaran pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan teori disonansi kognitif penting untuk diterapkan oleh praktisi public relations dalam konteks internal maupun eksternal perusahaan, karyawan akan lebih memilih bertahan dalam lingkungan yang membuatnya aman dan nyaman. Publik akan memilih menjalin ikatan dengan perusahaan yang mampu memberikan solusi dalam permasalahannya, begitu pula pesan persuasif yang baik adalah pesan yang mampu membuat publik merasa yakin dan puas dengan ide atau program yang perusahaan berikan.

Sejalan dengan hal itu, Gojek mampu menggabungkan inovasinya di bidang teknologi dan trasnportasi untuk membentuk transportasi berbasis online serta berhasil menanamkan kepercayaan terhadap publik sebagai transportasi aman dan nyaman, Gojek mampu memberikan solusi sekaligus mengurangi disonansi bagi masyarakat yang membutuhkan lingkungan aman dalam berpergian, disamping itu Gojek memberikan bonus inovasi dengan menetapkan biaya yang relatif murah kepada pengguna Gojek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DeVito, J. A. (2011). Komunikasi Antarmanusia, Ed.5. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.

Kriyantono, R. (2014). Teori Public Relatios Perspektif Barat dan Lokal. Jakarta: Prenadamedia Group.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2014). Teori Komunikasi, Ed.9. Jakarta: Salemba Humanika.

Dewi, Siti Nuraisyah & Rizki Aulia Rachman. (2015). Tak hanya trasportasi, Gojek buka jasa pesan antar makanan. Diakses melalui http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/611310-tak-hanya-transportasi-gojek-buka-jasa-pesan-antar-makanan pada tanggal 8 Maret 2017

Ngazis, Amal Nur. (2015). Polling: Rakyat Pilih Gojek Dibanding Ojek Pangkalan. Diakses melalui http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/674846-polling-rakyat-pilih-gojek-dibanding-ojek-pangkalan pada tanggal 8 Maret 2017

Supriyanto, Agung. (2017). CEO Gojek Indonesia: membangkitkan gairah usaha tukang gojek. Diakses melalui http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/03/16/o44e4715-nadiem-makarim-pendiri-dan-ceo-gojek-indonesia-membangkitkan-gairah-usaha-tukang-ojek pada tanggal 8 Maret 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Studi Kasus Consonance Dissonation Theory terhadap Perusahaan Teknologi Gojek di DKI Jakarta”

Diajukan untuk tugas mata kuliah Teori-Teori Public Relations

 

Dosen Pengampu :

Rachmat Kriyantono, Ph.D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

Anata Lu’luul Jannah              145120207111054

Amalia Nur Asizah                  145120207111055

 

 

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Deskripsi Kasus
Tanggal Judul Berita Kronologis Kejadian
22 Juni 2015 Ini kasus – kasus kejahatan Seksual yang pernah terjadi di Angkot Ibu Kota Kasus pemerkosaan, perampokan yang terjadi di  Ibu Kota Jakarta menjadi perhatian warga Jakarta, setidak nya kasus tersebut terbilang banyak dalam kurun tahun 2011 hingga saat ini
8 April 2015 Tak Hanya Transportasi, Gojek Buka Jasa Pesan Antar Makanan Go-Jek mengembangkan bisnisnya, tidak hanya antar jemput sebagai ojek. Namun juga menawarkan jasa kurir pesan antar makanan
16 September 2015 Polling: Rakyat pilih Gojek Dibanding Ojek Pangkalan Melihat antusiasme masyarakat terhadap go-jek. Viva.co.id mengadakan survei kepuasan pelanggan terhadap  ojek Go-jek dan Ojek pangkalan. Dan hasilnya adalah 82% lebih memilih Go-Jek
1 Januari 2017 Membangkitkan Gairah Usaha Tukang Ojek Nadiem merupakan sosok di balik revolusi industri transportasi ojek di Indonesia. Sebuah layanan jasa ojek yang digemari masyarakat. Dengan fitur-fitur terbaru yang selalu memanjakan konsumennya.

 

 

 

 

Supriyanto (2017) mengatakan pada tahun 2011 seorang pemuda Indonesia mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi yaitu Go-Jek Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh ojek-ojek pangkalan yang menghabiskan waktunya 8-10 jam hanya untuk menunggu penumpang. Perusahaan Go-Jek Indonesia ini membantu ojek-ojek pangkalan untuk menambah  jumlah penumpang mereka dalam. Awalnya Go-Jek Indonesia melakukan transaksi hanya melalui telepon. Namun pada tahun 2014 dengan melihat antusias masyarakat terhadap go-jek, perusahaan ini membuat aplikasi berbasis online. Hal ini juga memudahkan masyarakat yang ingin memesan go-jek untuk melakukan perjalanan yang jauh dapat melihat ongkos dan juga mengenal siapa driver yang akan menjemputnya.

Nadiem, sebagai CEO PT. Go-Jek Indonesia mengatakan ada tiga masalah besar yang ada di kota-kota besar Indonesia. Kemcetan, kurangnya lahan pekerjaan di sektor informal, dan ketidakefisienan pasar di sektor transportas khusunya ojek. Namun tidak hanya bergerak dalam bidang transportasi ojek, dilansir pada viva.co.id tahun 2015 Go-jek membuka fitur baru yakni Go-Food. Menurut Go-Food Project Lead, Jesayas Ferdinandus, layanan fitur Go-Food adalah layanan yang diciptakan untuk pesan antar makanan. Layanan ini akan memudahkan pengguna aplikasi yang ingin memesan makanan namun tidak ingin keluar rumah.

 

Keberadaan Go-Jek di Indonesia ini sangat menguntungkan publiknya. Hal ini dibuktikan melalui survei yang dilakukan oleh viva.co.id terhadap pengguna ojek. 82% responden setuju dengan keberadaan Go-jek dibandingkan ojek pangkalan. Lima alasan uttama dari responden yang mendukung keberadaan Go-Jek adalah bisa menjemput pada tempat yang sudah ditentukan, dan tidak perlu keluar mencari ojek, harga pas tidak perlu menawar, pengendara, kendaraan, dan helm sudah memiliki standar yang membuat rasa aman berkendara, tersedia di sekitar masyakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2. Permasalahan

Berdasarkan kronologi diatas hubungan kasus pelecehan seksual yang terjadi di Ibu Kota dengan terbentuknya Perusahaan teknologi Gojek memiliki dampak bagi penumpang transportasi umum di DKI Jakarta  :

  • Banyak dari Masyrakat Ibu Kota DKI Jakarta berhenti menggunakan transportasi umum dan memilih untuk menggunakan transportasi berbasis online salah satunya adalah Gojek

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Asumsi dasar Teori Disonansi Kognitif

Teori Disonansi Kognitif merupakan teori yang diadaptasi dari displin ilmu psikologi. Teori ini awal mula diciptakan oleh Leon Festinger yang bertujuan untuk memahami hubungan antara kognitif dan perilaku. Festinger (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 115) berpendapat bahwa setiap individu (pelaku komunikasi) memiliki beberapa elemen kognitif, seperti sikap, persepsi, pengetahuan dan perilaku yang saling berkaitan dan menjadi sebab akibat terjadinya tindakan.

Festinger (Kriyantono, 2014, hal. 292) menjelaskan antara elemen dan kognisi memungkinkan terjadinya 3 hubungan, a) Irrelevance (nol), yakni tidak ada keterhubungan antara satu elemen dengan elemen yang lainnya, misalnya pengetahuan individu tentang memelihara kucing dan persepsi individu terhadap kumpulan Ibu – Ibu PKK. b) Consonance (konsistensi) yakni adanya kecocoka atau kesesuaian antara elemen satu denga elemen yang lainnya, contoh Ani memelihara kucing berhubungan dengan kebiasaan Ani pergi ke splendid setiap minggu untuk membeli makanan kucing, yang ketiga adalah c) Dissonance (inkonsistensi) yakni antar elemen saling bertentangan, misalnya Ani memelihara kucing di rumahnya dengan kebiasaan Ani yang tidak berbelanja makanan kucing di pasar splendid. Jenis hubungan yang terakhir merupakan suatu pertentangan yang ditunjukkan dalam perilaku Ani dengan kognisi Ani bahwa setiap makhluk hidup layak diberi makanan yang sesuai dan bernutrisi.

Littlejohn & Foss (2014, hal. 116) berpendapat terdapat dua pemikiran yang menolak teori disonansi. Pemikiran pertama bahwa disonansi menghasilkan ketegangan atau tekanan yang mengharuskan individu untuk berubah, dan yang kedua semakin tinggi disonasi yang terjadi di individu, semakin besar kebutuhan individu untuk mengurangi disonansi tersebut. Disonansi merupakan hasil dari dua variabel, yaitu elemen kognitif dan elemen tindakan, dengan kata lain jika di dalam dua hal tersebut terdapat inkonsistensi makan disonansi akan terjadi. Contoh, Ade percaya bahwa membaca materi sebelum masuk kelas dapat meningkatkan pemahaman Ade terhadap materi yang akan disampaikan di kelas, namun Ade tidak melakukannya karena Ade malas, atau karena ada unsur –unsur lain.

 

Dalam kondisi tersebut bisa dipastikan bahwa Ade mengalami disonansi, dan jika disonansi tersebut semakin tinggi dirasakannya, maka ia akan berkecenderungan untuk menguranginya dengan beberapa cara, salah satunya berdalih bahwa “tidak apa apa, hanya sekali tidak membaca buku pelajaran”. Contoh diatas merupakan jenis individu yang menggunakan teknik rasionalisasi untuk mengurangi disonasi tersebut.

2.2. Metode mengurangi Disonansi

Festinger (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 116) menggambarkan beberapa metode untuk menghadapi disonansi kognitif, (a) mengubah beberapa elemen kognitif atau elemen perilaku untuk mengurangi disonansi, misalnya Ade dapat mengubah kognisinya dan mulai percaya bahwa membaca buku sebelum kelas tidak harus dilakukan disetiap matakuliah, ade dapat memprioritaskan mata pelajaran yang sukar di pahami. (b) menambah elemen – elemen baru kepada elemen kognisi dan elemen tindakan, misalnya Ade dapat menerapkan sistem belajar bersama dengan cewek yang disukai di sekolah, sehingga belajar tidak selalu membosankan, (c) individu dapat melihat bahwa elemen – elemen yang tidak sesuai tidak terlalu penting, contoh, Ade harus melihat bahwa fakta mendapat nilai bagus dan naik kelas menjadi prioritas utama dan lebih penting dari tidak membaca buku, (d) mempertimbangkan informasi  yang sesuai, seperti terlalu serius membaca buku megindikasikan orang tersebut kutu buku, dan kurang pergaulan, atau dengan memahami bahwa materi besok sangatlah rumit sehingga malam harinya dibutuhkan belajar.

Selain itu Zimbardo, dkk (Kriyantono, 2014) menawarkan empat aspek yang mempengaruhi disonansi, (a) persepsi terhadap pentingnya isu (perceived important), yakni individu dapat menilai penting tidaknya suatu isu, serta pengaruh isu terhadap tinggi rendahnya disonansi tersebut, (b) rasio disonansi, rasio disonansi dipengaruhi oleh dua hal yaitu penting tidaknya elemen kognitif dan banyak tidaknya jumlah elemen dalam relasi disonansi, (c) rasionalisasi, rasionalisasi merupakan upaya idividu dalam mencari pembenaran dengan memberikan dalih yang ia gunakan untuk mengurangi disonansi seperti pada contoh Ade yang tidak belajar materi pelajaran sebelum kelas dimulai, (d) proses persepsi, proses ini disebut sebagai upaya mengurangi disonansi yang dapat diaplikasikan dalam 3 tahap, a) selective ex-

 

 

 

posure, yakni individu menyeleksi informasi yang ia dapat dan cenderung menghindari pesan yang inkosisten yang dapat meningkatkan disonansi, b) selective attention, yakni individu lebih mepehatikan pesan yang sesuai dengan skematanya untuk mengurangi tingkat disonansinya, c) selective retention, yakni individu cenderung akan mengingat pesan atau informasi yang sejalan dengan skemata yang diyakininya.

Festinger (Littlejohn & Foss, 2014) turut mejelaskan disonansi dialami sebagai hasil sebuah keputusan yang bergantung kepada empat variabel, (a) kepentingan keputusan, (b) ketertarikan pada alternatif yang dipilih, (c) jika terja di ketertarikan kuat antara individu dengan alternatif baru atau diluar alternatif yang dipilih maka disonansi akan semakin besar (d) semakin besar tingkat kesamaan atau kecocokan antara elemen – elemen, semakin kecil disonansinya.

2.3. Aplikasi Teori Disonansi Kognitif dalam Public Relations

Dalam upaya memerangi disonansi yang dimiliki setiap masyarakat, maka praktisi public relations harus membuat membuat pesan yang mampu mengurangi disonansi publik. Pesan tersebut dapat dibuat berdasarkan problema yang terjadi di dalam masyarakat, dan jauh sebelum itu praktisi public relations sudah melakukan riset terhadap aspek demografis, psikologis, dan kebutuhan publik. Selain itu, pesan yang dimuat dalam upaya mempersuasi masyarakat harus mampu menyelesaikan problema masyarakat, termasuk mengurangi disonasinya. Masyarakat sebagai makhluk sosial tentu berhak mendapatkan jenis pertukaran yang menguntungkan, individu akan terus berupaya mengejar sesuatu yang menjadi solusi dari permasalahannya, hal ini diterapkan dalam interaksi sosial, dalam hal ini perusahaan dapat memenangkan peluang tersebut, dengan membuat semacam win win solution antara perusahaan dengan publik, praktisi public relations mesti menggunakan kesempatan tersebut.

Harrison (Kriyantono, 2014) menawarkan poin – poin bagi praktisi public relations dalam mendesain pesan persuasif (a) pesan persuasif yang memiliki kegunaan bagi khalayak, (b) pesan persuasif yang mengandung kejujuran dan tidak bersifat manipulatif, (c) pesan persuasif yang mampu menarik perhatian khalayak sehingga dianggap sebagai penting dan bernilai (d) pesan persuasif yang tidak mengandung ancaman yang menganggu kepentingan khalayak. Dalam konteks internal perusahaan, strategi disonansi dapat diterapkan praktisi pu-

 

 

 

blic relations untuk meningkatkan kinerja karyawan, dengan cara menyediakan kebutuhan dan fasilitas yang diperlukan karyawan. Fasilitas tidak hanya berarti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, gym, tunjangan, namun fasilitas juga dapat termasuk dalam kebutuhan emosional karyawan, praktisi public relations yang sekaligus berfungsi sebagai boundary spanning perlu menjembatani hubungan antara top management dan para karyawan.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan yakni menggunakan dialog informal dengan karyawan di sela – sela perkerjaan, hal ini dimaksudkan untuk memelihara komunikasi keatas dan komunikasi kebawah. Devito (2011, hal. 387) mengemukakan bahwa manajemen dan karyawan terkadang memiliki perbedaan dalam berdialog, dan kesulitan tersebut menjadi permasalahan pokok manajemen dalam berkomunikasi dengan karyawan, sehingga karyawan tidak mampu memahami pesan yang diberikan oleh manajer. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi dua arah, praktisi public relations memiliki andil besar dalam merekatkan struktur perusahaan, hal – hal kecil yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motiivasi karyawan denga melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, atau menyelenggarakan event sebulan sekali bagi karyawan, event tersebut dapat di desain dengan memberikan nominasi karyawan terbaik, tergiat dan sebagaiannya, perusahaan perlu mengapresiasi karyawan untuk mengurangi disonansi karyawan dalam lingkungan kerja. Perusahaan harus memperhitungkan hal – hal tersebut karena, terkadang manajemen tidak dapat menebak kesulitan dan keluhan karyawan, karyawan merupakan aset yang paling berharga bagi perusahaan, buatlah karyawan percaya kepada perusahaan agar karyawan mau berjuang demi perusahaan.

Berdasaran pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan teori disonansi kognitif penting untuk diterapkan oleh praktisi public relations dalam konteks internal maupun eksternal perusahaan, karyawan akan lebih memilih bertahan dalam lingkungan yang membuatnya aman dan nyaman. Publik akan memilih menjalin ikatan dengan perusahaan yang mampu memberikan solusi dalam permasalahannya, begitu pula pesan persuasif yang baik adalah pesan yang mampu membuat publik merasa yakin dan puas dengan ide atau program yang perusahaan berikan.

 

 

 

BAB III

ANALISIS KASUS

 

Gojek merupakan perusahaan transportasi berbasis online pertama yang telah resmi beroprasi di 13 kota besar Indonesia, yakni Jabodetabek, Denpasar, Bandung, Malang dan sebagiannya. Perusahaan tersebut termasuk dalam kategori perusahaan sukses di Indoenesia dalam kurun waktu yang singkat, pada tahun 2010, Nadiem Makarin selaku CEO Gojek Indonesia mendeklarasikan gojek sebagai transportasi online sebagai transportasi karya anak bangsa. Pada bulan Juni 2015 keberhasilan Gojek terbukti dan memperoleh penghargaan Indonesia Cellular Show dengan nominasi Best Mobile Apps, tidak berhenti disitu, pada bulan Oktober 2016 Gojek meraih puncak kesuksesannya dan memperoleh penghargaan The First Asean Entrepreneur Award di Seoul, dan rentetan penghargaan lainnya yang diperoleh perusahaan transportasi online tersebut.

3.1. Gojek Solusi untuk Mengurangi Disonansi Masyarakat

Tercatat sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 kekerasan seksual menjadi perhatian penting bagi masyarakat khususnya bagi penumpang transportasi umum. Pada awal september 2011 seorang korban berinisial RS (27) yang berprofesi sebagai karyawati diperkosa oleh 4 pelaku pemerkosaan termasuk sopir angkot tersebut, kejadian tercatat di kawasan Ibu Kota DKI Jakarta  (Kompas, 2015). Selain itu pada bulan Agustus 2011, kejadian lebih tragis menimpa LPS yang dibunuh oleh supir angkot beserta komplotannya seusasi memperkosa korban, korban merupakan mahasiswi yang baru saja selesai menghadapi ujian skripsi di Perguruan Tinggi Swasta Jakarta (Kompas, 2015). Setahun Kemudian di bulan Juli 2012, pelecehan seksual terjadi di ibukota dengan korban yang berinisial IS (31) nyaris diperkosa oleh supir angkot di jurusan Senen – Ciledug. Seusai banyaknya kejadian pelecehan tersebut Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengeluarkan sederetan rangkain peraturan tentang larangan penggunaan kaca gelap pada angkot dan mewajibkan pemakaian seragam resmi pada sopir angkot.

 

 

 

Namun kejadian tersebut tidak berhenti disitu, pada tahun 2013 pelecehan seksual kembali terjadi ditambahi dengan kasus perampokan terhadap korban yang berinisial R (35), serta sederetan kasus sama yang tercatat panjang dalam daftar kejahatan di transportasi umum. Beberapa contoh kasus diatas merupakan peristiwa yang ingin dihindari oleh masyarakat manapun, penumpang angkutan umum kini mewaspadai hal – hal tersebut di sekelilingnya, hal ini menjadi suatu tekanan yang dirasakan warga, setiap individu mempunyai kepentingan dan aktivitas masing – masing yang membuat mereka memilih untuk menggunakan transportasi umum, disisi lain warga juga mengharapkan memperoleh kondisi aman dan nyaman dalam berpergian. Deretan kasus pelecehan seksual diatas merupakan peluang yang digunakan oleh Gojek dengan memberitahukan kepada masyarakat bahwa dengan memesan gojek berarti anda telah menggunakan safety riding. Perkembangan Gojek sekarang merupakan inovasi cerdas yang dimanfaatkan perusahaan dalam mengambil hati publik.

Publik membutuhkan keamanan dan kenyamanan dalam berpergian, hal ini menjadi prioritas utama gojek dalam mempublikasikan produk mereka di bidang jasa dan transportasi. Setelah munculnya gojek, banyak dari masyarakat yang menggunakan transportasi umum beralih menggunakan transportasi berbasis online tersebut, yang tentunya hal itu menjadi modal utama gojek dalam berinovasi. Beberapa alasan masyarakat menggunakan Gojek karena kebutuhan masyarakat untuk mengurangi disonansi mereka terhadap peristiwa buruk yang mungkin menimpa mereka saat mengendarai transportasi umum. Seperti yang telah dibahas dibab sebelumnya, bahwa disonansi akan mengakibatkan tekanan terhadap individu untuk berubah (Littlejohn & Foss, 2014, hal. 116), dan oleh karena itu individu akan melakukan tindakan yang dapat mengurangi disonansi tersebut, dalam konteks ini masyarakat yang tercatat sebagai pelanggan angkutan umum cenderung meninggalkan kebiasaannya menggunakan transportasi umum dan memilih menggunakan gojek dengan beberapa pertimbangan.

Dari kesimpulan saya maka hal ini dapat terjadi jika (a) penilaian masyarakat terhadap gojek sebagai transportasi umum semi online yang menawarkan keamanan dan kenyamanan (b) penilaian masyarakat terhadap gojek sebagai transportasi umum yang menawarkan kemudahan untuk mengakses (c) penilaian masayarakat terhadap gojek sebagai transportasi –

 

 

 

 

umum yang mengutamakan pelayanan ramah (interaksi langsung antara driver dengan pelanggan membentuk suasana kedekatan interpersonal), (d) penilaian masyarakat terhadap gojek termasuk transportasi yang mengeluarkan biaya yang relatif murah. Beberapa alasan diatas menjadi alasan yang cukup rasional mengapa Gojek menjadi salah satu perusahaan sukses diumur yang masih muda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Berdasaran pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan teori disonansi kognitif penting untuk diterapkan oleh praktisi public relations dalam konteks internal maupun eksternal perusahaan, karyawan akan lebih memilih bertahan dalam lingkungan yang membuatnya aman dan nyaman. Publik akan memilih menjalin ikatan dengan perusahaan yang mampu memberikan solusi dalam permasalahannya, begitu pula pesan persuasif yang baik adalah pesan yang mampu membuat publik merasa yakin dan puas dengan ide atau program yang perusahaan berikan.

Sejalan dengan hal itu, Gojek mampu menggabungkan inovasinya di bidang teknologi dan trasnportasi untuk membentuk transportasi berbasis online serta berhasil menanamkan kepercayaan terhadap publik sebagai transportasi aman dan nyaman, Gojek mampu memberikan solusi sekaligus mengurangi disonansi bagi masyarakat yang membutuhkan lingkungan aman dalam berpergian, disamping itu Gojek memberikan bonus inovasi dengan menetapkan biaya yang relatif murah kepada pengguna Gojek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DeVito, J. A. (2011). Komunikasi Antarmanusia, Ed.5. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.

Kriyantono, R. (2014). Teori Public Relatios Perspektif Barat dan Lokal. Jakarta: Prenadamedia Group.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2014). Teori Komunikasi, Ed.9. Jakarta: Salemba Humanika.

Dewi, S. N. & Rizki, A. R. (2015). Tak hanya trasportasi, Gojek buka jasa pesan antar makanan. Diakses melalui http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/611310-tak-hanya-transportasi-gojek-buka-jasa-pesan-antar-makanan pada tanggal 8 Maret 2017

Ngazis, A. N. (2015). Polling: Rakyat Pilih Gojek Dibanding Ojek Pangkalan. Diakses melalui http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/674846-polling-rakyat-pilih-gojek-dibanding-ojek-pangkalan pada tanggal 8 Maret 2017

Supriyanto, A. (2017). CEO Gojek Indonesia: membangkitkan gairah usaha tukang gojek. Diakses melalui http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/03/16/o44e4715-nadiem-makarim-pendiri-dan-ceo-gojek-indonesia-membangkitkan-gairah-usaha-tukang-ojek pada tanggal 8 Maret 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

        Article Review : The  Dow Corning Crisis

   Tulisan ini merupakan hasil analisis saya dan teman teman saya tentang sebuah jurnal The  Dow Corning Crisis : A Benchmark. Selain itu kami juga membaca buku sebagai panduan yaitu   “ Public Relation dan Crisis Management : Pendekatan Critical Public Relation Etnografi Kritis dan Kualitas, (2012) yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono.

Krisis merupakan suatu masa yang kritis berkaitan dengan suatu peristiwa yang kemungkinan pengaruhnya bersifat negatif terhadap perusahaan (kriyantono 2012:74). Berikut adalah inti permasalahan dari jurnal “ The  Dow Corning Crisis : A Benchmark  “.

§Dow corning mendapat gugatan pada tahun 1977 karena dugaan masyarakat yang menggangap implan payudara buatan perusahaan dow corning tidak aman untuk dipakai.
§Pada tahun 1980 dampak gugatan baru terasa. Masalah krisis di awali oleh gugatan 
-Dow corning memproduksi dan memasarkan implan silicon yang berbahaya, meskipun dia telah tau lebih dulu bahwa silikon yang ia buat sangat berbahaya
-Lebih dari 20 penelitian gagal membuktikan hubungan implasi silikon dengan penyakit auto imun. Oleh karena itu publik tidak memiliki bukti yang kuat untuk mendukung dugaannya, maka dari itu corning masih memiliki alasan untuk mempertahankan perusahaannya, meskipun publik telah meminta corning untuk meninggalkan perusahaanya.
Dalam permasalahan dow corning tersebut terbagi dalam tiga periode yaitu :

    Periode pertama :

-Dow corning melakukan beberapa kesalahan dalam menyelesaikan kasus yang sedang di alaminya seperti
1.Public officer mendapat kegagalan mengenai pembicaraan dengan publik tentang kasus tersebut.
2.Berganitung dari bukti ilmiah untik melakukan pertahanan dari publik
3.Perusahaan bersifat tertutup terhadap media dan publik yang menyebabkan pemberitaan terhadap perusahaan tersebut semakin negaitf
4.Pada saat klarifikasi permasalahan, juru bicara yang di bayar oleh perusahaan tersebut berbeda-beda dan akibatnya informasi yang disampakan ke publik juga berbeda-beda.
5.Publik officer perusahan tidak berusaha mencoba untuk melakukan pencitraan positif terhadap publik
6.Dua publik besar seperti Media dan FDA tidak mendapat pelayanan yang baik berkaitan dengan permasalahan tersebut. Dan mengakibatkan FDA membuat pernyataan bahwa implan yang di buat oleh perusahaan tersebut berbahaya
7.Akhirnya dow Corning menyewa pengacara yang bertarif mahal untuk memulihkan citra positif perusahaan tersebut. Namun masih saja perusahaan bersifat tertutup. Dan media meliputya dengan pemberitaan yang negatif.

     Periode kedua ( september1991-1992 februari) :

1.Dow corning menyerang FDA untuk mencebut gugatan dan menyangkal tuduhan berkaitan dengan implan payudara silikon yang tidak aman, namun FDA memnunda gugatan tersebut.
2.Corning bersedia melakukan berbagai pengujian dari produknya untuk menyakinkan publik.
3.Akhirnya perusahaan mengangkat Keith MCKennon sebagai CEO dalam rangka memperbaki citra perusahaannya.
4.Keith menggunakan pihak ketiga untuk menyelidik implan payudara, membuat hotline bagipublik yang menggunakan impan payudara miliknya. Tetapi FDA menutup layanan hotline tersebut dengan dalih Dow Corning memberikan informasi yang salah.

   Periode ketiga (februari 1992):

1.Dow Corning meninggalkan bisnis implan payudara dan mengakui kebangkrutannya.
2.Strategi yang mereka gunakan tidak mampu mencapai tujuan untuk merubah pandangan negatif terhadap perusahaannya.
3.Bukannya malah memperbaiki citra melainkan mereka justru menciptakan tindakan yang menyebabkan kehancuran di bawah tekanan FDA dan media massa

           Dari penjelasan tersebut kami menganalisis langkah langkah Dow Corning saat mengatasi krisis perusahaan dengan menggunakan prinsip-prinsip public relation, yaitu :

a)Tell the truth :
Dow corning pada awalnya menutup diri kepada publik, lalu atas desakan kondisi yangmelunjak akhirnya dow corning menyewa juru bicara dalam rangka memberi inforasi kepada publik. Langkah yang digunakan dow corning sudah benar namun belum tepat untuk meyakinkan publik, hal ini berpusat kepada juru bicara yang memberikan informasi secukupnya. Harapannya tidak terwujud karena corning menyewa bermacam-macam juru bicara dan tidak di imbangi dengan informasi yang aktual. Sehingga informasi yang disampaikan kepada publik malah menimbulkan banyak kontra pada publik.

b)Profit with action :
Dalam usaha memulihkan citra yang positif. Perusahaan ini telah berusaha untuk membiktikan bahwa implan payudara tersebut aman menurut hasil riset dari perusahaannya. Namun sikap tersebut tidak disertai dengan sikap membuka diri terhadpa publik dan media dan cenderung menutup diri sehingga publik dan media menganggap negatif pada perusahaan dow corning.

c)Listenning to the public
Dow corning melakukan kesalahan terbesarnya ketika tidak mendengarkan publik berbicara dan cenderung mengabaikannya, ia tetap bersikukuh menyatakan bahwa hasil riset dari implan payudara tersebut baik digunakan utuk wanita. Namun corning tidak mampu mengatasinya karena ia tidak menuruti tuntutan keinginan publik.

d)Managing for tommorow
Dow corning harusnya dapat berpikir panjang dalam mengatasi kisis ini, misalnya dengan menghentikan pemasaran produk untuk jangka waktu beberapa bulan untuk di selidiki. Dengan begitu perusahaan dapat meminta maaf kepada publik bahwa produk yang mereka buat tidak di edarkan seama beberapa bulan. Namun menurut kami perusahaan tidak mempunyai pikiran untuk menjalankan usaha seperti itu entah apa yang mereka lakukan untuk mengembalikan citra positif dalam hal ini perusahaan harus tetap bersikap tenang.

e)Conducting activition
Hubungan korporasi merupakan fungsi manajemen, dalam hal ini perusahaan memperlakukan PR seakan semua hidup perusahaan bergantung pada PR eksternal tersebut. Maka dari itu, perusahaan harus bisa mengkondisikan waktu karena PR ini adalah peran yang terpenting dalam mewadahi seluruh isu-isu perusahaan. PR harus bersikap terbuka terhadap isu-isu, dalam kasus Dow corning, perusahaan sebenarnya telah memiliki seorang PR. Namun fungsi manajemen PR tidak terlaksanakan.

f)Remind calm passion and Humor.
Dalam kasus Dow corning ini, fungsi manajemen PR internal harusnya dapat bersikap lebih sabar dan santai. Manajemen PR internal juga dapat menjadi penengah dalam masalah ini, agar pekerja lainnya juga dapat bersikap tenang dan santai dalam mengambil keputusan untuk masalah ini.
Kesimpulan dari prinsip-prinsip ini adalah, perusahaan Dow corning tidak menjalankan prinsip-prinsip Public relations dengan baik yang mengakibatkan perusahaan Dow corning bangkut selain itu perusahaan dow corning masih tetap mendapat citra buruk dari publik.

Daftar Pustaka :
Kriyantono, R. (2012). Public relation dan crisis management : Pendekatan Critical Public relation etnografi kritis dan kualitas. Jakarta : Prenada Media Group. 

Mengenal Model – Model Public Relation dan Prosesnya dalam Kehidupan

Baiklah teman – teman dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang pelajaran yang sehubungan dengan Public Relation yakni PR sebagai Never Ending Procces dan Mempelajari Model- Model Public Relation. Blog ini saya buat dengan tujuan yang pertama adalah untuk memenuhi tugas  mata kuliah, dan yang kedua saya berharap blog ini juga dapat dibaca oleh teman teman komunikasi sekalian untuk menambah wawasannya dalam mengenai Public Relation. Selamat Membaca.

Public Relation sebagai Never Ending Procces

Sebelum kita memahami definisi Public Relation itu sendiri, kita harus mengetahui sejarah dari PR itu sendiri, PR sudah ada bahkan sebelum Manusia itu ada, bagaimana cara hewan berkomunikasi satu dengan yang lainnya bagaimana spesies satu dan spesies lainnya saling membantu memenuhi kebutuhan lainnya. Setiap dari mereka juga memperkenalkan diri mereka dan kebiasaan – kebiasannya terhadap individu lain, dari situlah mereka be;ajar berkomunikasi dengan cara menunjukkan dirinya, karena tanpa kita sadari setiap gerak gerik kiTa mengandung penjelasan atas siapa diri kita dan karakteristik kita. Manusia beitu juga denga Manusia lainnya memeperkenlkan, memeahamkan, dan membuat goal dari tujuab – tujuan itu sendiri, begitulah setiap dari individu terus mem-PR- kan diri mereka untuk menunjukkan siapa dirinya sendiri.
Dari contoh Terkecil yang coba kita pahami bagaimna makhluk hidup membutuhkan komunikasi dengan taktik Public Relation  seperti contoh hewan – hewan yang saling mem PR kan dirinya demi memenehuin kebutuhan dan membantu sepesies lainnya, seandainya Kucing tidak membutuhkan pertahanan untuk hidup maka ia tidak perlu mem-PR-kan dirinya kepada hewan yang lebih lemah darinya, misalnya kepada Tikus, seekor Kucing perlu menunjukkan sisi Kekekuatannya agar seeokor Tikus tahu bahwa Kucing memiliki kelebihan dari dirinya, dengan begitu seekor Tikus juga mengetahui apa yang diinginkan dari seekor Tikus termasuk bagaimana cara dirinya berttahan hidup. PR juga dibutuhkan agar orang-orang disekitar kita tahu apa yang harus ia lakukan untuk merespons dan beertingkah laku karena setiap dari kita berbeda-beda. Lalu dalam contoh besar seperti PR yang sudah menjadi kajian Ilmu dan di praktekan melalui Teori-Teori PR dalam Organisasi ataupun Lembaga Pendidikan, dengan cara seperti itu misalnya sebuahb Perusahaan tahu bagaimana cara memuaskan Konsumennya lewat Iklan dan strategi yang akan digunakannya nanti. PR sebagai Proses yang tidak akan pernah berhenti membuat kita menyadari pentingnya kita mem-PR-kan diri kita untuk sesame orang lain, guna mengetahui karakteristik setiap orang untuk melanjutkan hubungan dan menciptakan pemahaman yang baik. Menurut saya sendiri PR di definisikan sebagain sebuah usaha komunikasi dengan tujuan untuk menciptakan niat baik dan memelihara hubungan. Itulan mengapa PR harus terus berlangsung dalam diri seseorang dan jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan lainnya seperti propaganda khususnya PR dalam keorganisasian, demikian penjelasan saya atas PR sebagain Never Ending Procces., semoga teman-teman bisa memahami.

Model- Model Public Relation

Dalam sebuah Literature yang saya baca, saya menyimpulkan sebuah 4 Model yang akan saya bahas ini adalah Model dari Public Relation yang harus kita ketahui Karena keempat Model ini juga nantinya dapat menghubungkan dengan sejarah Public Relation, keempat Model-Model itu yakni:

1. Press Agentry

Model Pertama yang akan kita bahas adalah Model Press Agentry, Press Agentry disebut juga dengan Agen Pemberitaan yakni sebuah model dimana informasi bergerak satu arah – dari organisasi menuju publik. Model seperti ini kerap digunakan di sebuah organisasi atau perusahaan yang mana tujuan dari organisasi atau perusahaan tersebut memahamkan audience/masyarakat. Dari beberapa asumsi model ini adalah bentuk paling tua dari Public Relations, sepemahaman dengan pengertiannya, Press Agentry diartikan sama dengan hal-hal seperti Publisitas dan Promosi (Lattimore – Baskin : 2010).

Pada beberapa penjelasan yang ada, saya bisa menarik kesimpulan bahawa Model Press Agentry kerap banyak sekali digunakan dalam urusan pengembangan-pengembangan  perusahaan, untuk menciptakan citra baik nama perusahaan atau organisasi mereka dan menarik perhatian para konsumen atau audience termasuk dalam menggunakan taktik. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan hampir semuanya mengarah ke taktik Propaganda, dimana seseorang atau sekelompok kumpulan berusaha mempengaruhi atau mempersuasi orang lainnya dengan berbagai cara, seperti contohnya jika dalam sebuah perusahaan ingin menampilkan produk barunya maka ia akan menampilkan menggunaka iklan dan mendesain berbagai cara agar iklan tersebut menarik perhatian konsumen, seperti dengan menyewa bintang iklan ternama atau dengan menawarkan sejumlah hadiah, doorprize, promo dan sebagiannya. Hal- hal semacam ini merupakan taktik dalam sebuah perusahaan untuk mempengaruhi orang orang disekitarnya, terkadang dalam semua taktik yang digunakan tidak secara etis melainkan beberapa diantaranya mengunakan semacam pencitraan yang berlebihan demi mengangkat nama baik perusahaanya ataupun organisasi, terlepas dalam menggunakannya dengan berbagai cara. Lattimore dan Baskin menyebutkan semakin keras mereka bersuara, semakin banyak perhatian yang akan mereka peroleh, terlepas salah atau benar sehingga akan semakin baik mereka melakukan perkerjaaan.

2. Informasi Publik

Berdasarkan pemaham saya dalam Public Relations Profesi dan Praktik : 2010, Model ini berbeda dengan Model sebelumnya karena tujuan utamanya adalah memberi Informasi bukan untuk publisitas atau promosi. Dalam konteks komunikasi penyampaian berita tetap berjalan satu arah sama bersama Model Press Agentry, dimana sebuah Subjek berusaha menyampaikan pesan yang dimengerti komunikan dengan secara tidak wajib menanggapi umpan balik. Model ini sudah banyak digunaka dalam lembaga, organisasi, perusahaan, dan beberapa korporasik. Model seperti ini diakui kurang medalami peran sebagai komunikator untuk menjelaskan pesan terhadap audience atau komunikan, mereka adalah jurnalis jurnalis di rumah (Lattimore – Baskin : 2010), mereka menghargai akurasi tetapi memutuskan sendiri  (tanpa kelanjutan riset) tentang informasi apa yang paling baik, maksud dari perkataan Lattimore dan Baskin model sperti ini lebih banyak menggunakan jurnalis jurnalis dalam organisasi sendiri karena dasranya mereka hanya memenuhi informasi yang cukup bagi audience.

3. Model Asimetris Dua Arah

Dari Penjelasan Model Informasi Publik diatas kita bisa menyimpulkan bahwa Model Informasi Publik lebih memusatkan pada penyampaian informasi kepada audience ketimbang mencapai pemaham antara organisasi dengan public, dikarenakan Model Informasi Publik tidak menerapka metode ilmiah dan riset untuk mempersuasi Publik. Berbeda dengan Model Asimetris Dua Arah,  Model ini memandang Publik adalah objek yang harus dipahamkan dengan informasi yang kita kucurkan, namun meskipun begitu model ini tidak lebih mempertimbangkan feedback audience seperti Model Informasi Publik dan Perbedaan nya tidak membuat mereka berdiri terlalu jauh antara satu dengan yang lainnya, model asimetris dua arah ini lebih menarik audience untuk menyesuaikan diri dengan oragnisasi bukan organisasi yang menyesuaikan dengan audience. Alur komunikasi yang digunakan sama seperti model model sebelumnya yakni alur komunikasi satu arah. Selain itu Model ini menerapkan kelanjutan riset, meneliti metode-metode ilmiah, efektivitas persuasi dengan mewawancarai, meneliti agar sebuah informasi dan  pesan menjadi efektif. Model Asimetris  dua arah, Press Agentry dan juga Informasi Publik merupakan model yang mempunyai tujuan dan definisi yang sama dalam mencapai tujuan di organisasi dengan cara mempersuasi, mmempengaruhi audience demi meraih final destination, sedangkan model terakhir yang vakan kami sampaikan sedikit mempunyai fokus yang berbeda.

4. Model Simetris Dua Arah

Berdasarkan penjelasan Model-Model yang sudah ada, maka bisa disimpulakn bahwa Model terakhir yang akan kita bahas memiliki perbedaan definisi dan tujuan dengan Model- Model sebelumnya. Model Simetris dua arah lebih menimbang pada penyesuaian diri antara organisasi dengan publik. Mereka berfokus pada penelitian dan riset terhadap target pasar yang akan mereka tuju. Mereka mengimbangi dengan kemungkinan kelemahan dan dampak yang terjadi agar pesan yang mereka sampaikan bisa dipahami, metode riset yang digunakan juga bertujuan untuk memperoleh rasa saling pengertian serta komunikasi dua arah antara organisasi dengan public ketimbang persuasi satu arah (Lattimore – Baskin : 2010) dengan  begitu pengkondisian informasi kepada public lebih efektive karena bisa menyampaikan respon kepada organisasi dari feedback Public. Dalam bukunya Public Relations Profesi dan Praktik : 2010, disampaikan bahwa Grunig menciptakan nama lain dari model ini, mixed motives, collarobative advocacy dan cooperative antagonism. Grunig juga mengatakan bahwa Model ini adalah Model yang paling etis. Dari sini bisa saya simpulkan bahwa Model Simetris Dua Arah merupakan Model yang berhasil dalam penyampaiannya kepada publik dan mengikat keduanya dalam komunikasi yang efektif. Dalam tatanan organisasi sebuah pencitraan baik akan timbul jika konsumen memberi feedback positif begitu pula karena Publik adalah Penentu bagaimana sebuah Organisasi berrhasil dalam pengaturan di dalamnya.

Dari sini kita bisa membaca garis-garis tipis perbedaan yang ada dalam keempat model ini, keempatnya memiliki tujuan sama dalam menyampaikan informasi untuk publik namun, taktik yang digunakan untuk mepersuasi audience berbdeda sehingga hasi yang ditimbulkan berupa feedback yang berbeda pula, demikian yang nantinya akan berpengaruh pada proses internal atau eksternal dari sebuah perusahaan. Mungkin begitu saja pengertian dari Model – Model Public Relation yang bisa saya sampaikan, lebih dan kurangnya saya mohon maaf dan terimakasih, semoga bisa membantu. 

Referensi :
Lattimore,Dan.,& Baskin,Otis.,& Heiman,T,Suzette.,& Toth,L,Elizabeth,. (2010). Public Relation Profesi dan Praktik. Jakarta : Salemba Himanika.